Hustle culture merupakan istilah dari sebuah gaya hidup yang mendorong manusia untuk bekerja terus-menerus bahkan melampaui kapasitas energinya. Hal ini biasanya dilandasi oleh kebutuhan financial, entah untuk mencukupi hal-hal yang kurang hingga memenuhi impian kebebasan ekonomi di masa depan.
Orang-orang yang mengidap hustle culture dikenal memiliki obsesi berlebih terhadap pekerjaannya. Budaya gila kerja ini tentu memiliki dampak buruk bagi kesehatan, baik secara fisik maupun mental.
Bagaimana lebih jelasnya?
Mengapa Berkembang Hustle Culture?
Hustle culture dapat berkembang menjadi gaya hidup yang semakin berkembang setelah ramainya penggunaan sosial media. Hal ini terjadi karena orang lebih mudah dalam membandingkan diri dengan pencapaian dan kesuksesan orang lain. Timbulnya rasa takut ketertinggalan membuat orang mengatasinya dengan jalan bekerja.
Hal ini kemudian mendorong orang untuk terus bekerja tanpa kenal lelah hingga tidak mementingkan dirinya sendiri lagi.
Selain itu, hustle culture juga sering kali muncul dari obsesi pribadi untuk mencapai status yang tinggi di mata orang lain atau untuk memenuhi tuntutan hidup. Orang yang perfeksionis biasanya memiliki gaya hidup hustle culture.
Ciri-Ciri Hustle Culture
Ciri utama seseorang terjebak dalam hustle culture yaitu kehidupannya sangat produktif penuh kerja keras tanpa henti. Ada perasaan bersalah bagi orang tersebut bila tidak melakukannya.
Beberapa ciri lainnya yang bisa kamu perhatikan di antaranya:
- Memikirkan pekerjaan dimanapun, bahkan ketika berlibur
- Mengorbankan waktu tidur demi menyelesaikan pekerjaan
- Merasa terobsesi dengan keberhasilan pekerjaan
- Memiliki ketakutan akan kegagalan di tempat kerja
- Bekerja demi mengatasi perasaan bersalah
- Mengabaikan saran orang lain untuk beristirahat atau mengurangi pekerjaan
- Menjadikan pekerjaan sebagai alasan menghindari hubungan dengan orang lain
- Merasa tidak percaya diri
- Sulit merasa puas atas pencapaian yang sudah diraih
- Mengabaikan kesehatan hingga lupa makan dan tidur terlalu larut demi menyelesaikan tugas dengan sempurna
Dampak dari Hustle Culture bagi Kesehatan
Kamu tidak diminta untuk menghindari kerja keras. Namun, menjadi keharusan untuk mengenali batas energi agar tubuhmu tidak tumbang dan malah memberi dampak terburuk akibat mengorbankan kesehatan karena pekerjaan.
Sebab, biasanya orang yang terjebak dengan hustle culture akan mengabaikan keluhan fisik dan terus bekerja. Lama-kelamaan, kamu sulit mengenali tanda-tanda tubuh yang membutuhkan istirahat.
Menurut berbagai penelitian, jam kerja yang panjang berkaitan dengan stres dan depresi. Selain itu, penelitian lain juga menemukan bahwa bekerja 55 jam atau lebih perminggu dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Cobalah ambil waktu sejenak untuk istirahat dan nilai bagaimana perasaanmu. Di saat seperti ini cobalah untuk bermeditasi dan telaah dengan baik isi pikiranmu. Cara ini akan membantu untuk mengenali tekanan yang dirasakan, respon tubuh, dan kebutuhan diri.
Bekerja keras itu bukan masalah. Yang jadi masalah adalah ketika kamu tidak lagi punya batas antara waktu kerja dan waktu istirahat. Mengenali batas energi adalah langkah pertama, dan langkah berikutnya adalah menata lingkungan kerja yang mendukung batas itu.
Salah satu cara sederhananya: pisahkan ruang kerja dari ruang istirahat. Kalau bekerja dari rumah, kamu sering kesulitan “mematikan” mode kerja karena laptop dan tumpukan tugas selalu terlihat. Dengan punya ruang khusus untuk bekerja, otakmu lebih mudah membedakan kapan harus fokus dan kapan waktunya berhenti.
Di sinilah SpaceHub Lab bisa membantu. Sebagai coworking space di SpaceHub Thamrin, SpaceHub Lab menyediakan hot desk dan ruang meeting yang bisa kamu gunakan sesuai kebutuhan. Kamu bisa datang, bekerja dengan fokus, lalu pulang dengan perasaan sudah selesai, tanpa membawa suasana kerja ke tempat istirahatmu.
Produktif itu penting, tapi sehat dan berkelanjutan jauh lebih penting. Yuk, mulai atur ritme kerjamu dan coba bekerja dengan lebih terarah di SpaceHub Lab.





